Showing posts with label Internasional. Show all posts
Showing posts with label Internasional. Show all posts

Wednesday, March 6, 2013

Sembilan Fakta Unik Hugo Chavez

Berbicara di balkon istana kepresidenan di Caracas, Jumat (13/4/2012), Presiden Venezuela Hugo Chavez bersama putrinya, Rosa Virginia, saat mengumumkan akan berangkat ke Kuba untuk menjalani pengobatan lanjutan atas tumor pada panggulnya. Karena Chavez lama tidak berbicara ke publik, muncul spekulasi kesehatannya mundur atau bahkan meninggal.
CARACAS, KOMPAS.com — Mendiang Presiden Venezuela Hugo Chavez, semasa hidupnya kerap membuat pernyataan atau tindakan yang kontroversial. Tak jarang pernyataannya membuat panas telinga lawan-lawan politiknya. Nah, inilah sembilan fakta unik mendiang pemimpin yang kerap dijuluki El Commandante itu:

1. Pada Juni 2009, Presiden Chavez melarang peredaran minuman ringan Coke Zero. Dia mengklaim minuman rendah kalori itu tidak sehat, tetapi dia tidak mengelaborasi pernyataannya. "Produk itu harus ditarik dari peredaran untuk menjaga kesehatan warga Venezuela," kata Chavez kala itu.

2. Dalam acara televisi dan radio mingguannya, Alo Presidente, pada Oktober 2005, Chavez juga melarang perayaan Halloween di Venezuela. Dia menilai Halloween adalah "teror kaum imperialis" dan bagian dari tradisi Amerika "menyebar ketakutan ke negara lain, menyebar ketakutan kepada rakyat".

3. Chavez ternyata penggemar berat baseball. Saat mengunjungi AS pada Juni 1999, beberapa bulan setelah dilantik, dia berkesempatan melakukan lemparan pertama di Stadion Shea, New York, dalam laga klub baseball New York Mets. Pemimpin berhaluan sosialis ini juga membunyikan bel penutupan perdagangan di lantai bursa New York.

4. Chavez sangat tidak suka olahraga golf, yang menurutnya adalah olahraga para borjuis. Dia juga menyebut mobil golf adalah perlambang betapa malasnya para pemain golf. Para pengikut setia Chavez kemudian membatalkan dua turnamen golf di negeri itu karena menganggap pemeliharaan lapangan golf sangat besar sementara banyak warga negeri itu hidup dalam kemiskinan.

5.Pada 2005, Chavez mengunjungi South Bronx, New York. Dalam pidatonya di sebuah gereja setempat, Chavez menjanjikan minyak dengan harga murah untuk warga miskin di sana. Lewat Citgo Petroleum, anak perusahaan minyak Venezuela di Amerika, dia menyediakan minyak pemanas dengan potongan harga hingga 40 persen. Citgo juga menjanjikan bantuan 3,6 juta dollar AS selama tiga tahun untuk menciptakan lapangan kerja dan merehabilitasi kawasan itu.

6. Saat berpidato dalam Hari Air Sedunia 2011, Chavez menyatakan kehidupan Planet Mars berakhir karena salah kapitalisme.

7. Meski Chavez bukan fans kapitalisme, tetapi dia adalah pengguna Twitter yang sangat aktif. Hingga wafatnya, Chavez memiliki empat juta followers. Dia bahkan menghadiahi sebuah apartemen baru untukfollower-nya yang ke-tiga juta.

8. Chavez adalah pengagum pemimpin Kuba, Fidel Castro. Dia bahkan bergabung dalam sebuah kuartet untuk menyanyikan lagu "Happy Birthday" merayakan ulang tahun ke-75 Castro pada 2001.

9. Meski garang di dunia politik, Chavez ternyata memiliki sisi artistik juga. Pada Desember 2011, dia memberi Presiden Argentina Cristina Fernandez de Krichner sebuah lukisan dirinya bersama Nestor Kirchner, almarhum suami sang presiden. Ternyata lukisan itu adalah hasil karya Chavez. "Banyak orang tak percaya bahwa saya yang membuat lukisan itu," kata Chavez.

Bentrok di Sabah, 14 Orang Tewas



KUALA LUMPUR, JUMAT - Bentrokan akhirnya pecah antara aparat keamanan Malaysia dan ratusan warga Filipina yang menyusup ke kawasan Lahad Datu, Sabah, Malaysia, Jumat (1/3) pagi.

Sedikitnya 14 orang, yang terdiri dari 2 personel komando kepolisian Malaysia dan 12 penyusup, dilaporkan tewas dalam baku tembak sengit yang berlangsung sekitar 30 menit itu. Menurut Kepala Kepolisian Sabah Hamza Taib, tiga polisi Malaysia juga terluka dalam insiden itu.

Pertempuran terjadi setelah para penyusup mencoba menerobos barikade yang didirikan polisi Malaysia.

Bentrokan ini menjadi puncak drama penyusupan dan pengepungan yang berlangsung sejak pertengahan Februari lalu.

Seperti diwartakan sebelumnya, sedikitnya 200 orang asal Filipina selatan, yang mengklaim sebagai warga Kesultanan Sulu, berlabuh dan mendirikan tempat tinggal di kawasan Lahad Datu pada 9 Februari. Polisi dan tentara Malaysia kemudian mengepung orang-orang yang sebagian membawa senjata api itu.

Pemerintah Malaysia dan Filipina telah mendesak orang-orang itu segera kembali ke Filipina. Namun, mereka menolak dengan alasan wilayah Sabah adalah bagian dari Kesultanan Sulu.

Insiden berdarah tersebut memicu kemarahan Perdana
Menteri Malaysia Najib Razak, yang mengaku telah menyerahkan sepenuhnya penanganan masalah itu kepada aparat keamanan.

”Jangan menguji kesabaran kami yang ada batasnya. Kami berupaya memindahkan mereka, mereka seharusnya menyerahkan diri dan pergi,” ujar Najib seperti dikutip kantor berita Bernama.

Keterangan berbeda

Agbimuddin Kiram, adik bungsu Sultan Sulu Jamalul Kiram III, yang saat bentrokan pecah berada di lokasi, mengklaim tembakan pertama berasal dari kepolisian Malaysia.

”Mereka (polisi Malaysia) masuk ke wilayah kami sehingga kami harus membela diri. Kami dikepung dan tembak-menembak terjadi,” ujarnya kepada stasiun radio DZBB di Manila.

Pernyataan yang lebih kurang sama juga disuarakan juru bicara Presiden Filipina Benigno Aquino III. Menurut jubir yang tidak disebutkan namanya itu, tembakan dilepaskan aparat kepolisian Malaysia setelah anggota kelompok Kesultanan Sulu mencoba menembus barikade polisi.

Pernyataan mereka dibantah Menteri Dalam Negeri Malaysia Hishammuddin Hussein. ”Saya telah mengonfirmasi bahwa aparat keamanan kami sama sekali tidak melepaskan satu pun tembakan. Personel kamilah yang justru ditembaki sekitar pukul 10.00 tadi!” tulis Hishammuddin di akun Facebook-nya.

Insiden baku tembak tersebut dikhawatirkan akan memanaskan hubungan bilateral Malaysia dan Filipina yang selama ini kerap berselisih, terutama terkait dengan perbatasan wilayah laut. Insiden berdarah ini juga terjadi di saat Malaysia sedang mempersiapkan pemilihan umum.

Di Manila, juru bicara Kesultanan Sulu, Abraham Idjirani, menyatakan, pihaknya akan terus melakukan perlawanan dan memaksa Pemerintah Malaysia bersedia duduk berunding membicarakan klaim mereka.

Kesultanan Sulu, yang kini telah menjadi bagian dari Filipina, mengklaim Sabah sebagai wilayah mereka yang disewa Inggris pada masa kolonial. Tahun 1963, Sabah menjadi wilayah Malaysia. Namun, negara itu masih membayar uang sewa kepada penerus Kesultanan Sulu setiap tahun.

Tentara Kesultanan Sulu menuntut Malaysia mengakui mereka sebagai pemilik sah Sabah dan menegosiasikan ulang kontrak perjanjian sewa mereka. Namun, Pemerintah Malaysia menolak tuntutan itu. (Reuters/AP/BBC/DWA)

Sultan Sulu Jamalul Kiram III menggelar jumpa pers di Manila, Selasa (26/2/2013)



Sultan Sulu Jamalul Kiram III menggelar jumpa pers di Manila, Selasa (26/2/2013). Sebanyak 180 pengikut Sultan Sulu berada di Sabah, Malaysia yang diklaim sebagai wilayah Kesultanan Sulu. Presiden Filipina Benigno Aquino memperingatkan Sultan Sulu agar segera menarik para pengikutnya atau menghadapi konsekuensi hukum.

Sultan Sulu Jamalul Kiram III Mengatakan rakyat Sulu hanya mencoba meminta kembali wilayah Sulu di daerah Sabah yang lama telah di duduki oleh Imperialis Malaysia , karena perjanjian sewa yang dibuat sejak masa pendudukan Kolonial Inggris dan di perbaharui masa pemerintahan federasi Malaysia sudah perlu untuk di perbaharui . 

Dan Kesultanan Sulu menghendaki supaya tanah itu di kembalikan oleh Imperialis Malaysia kepada Sultan Sulu Jamalul Kiram III sebagai pewaris yang syah .

Lima Polisi Malaysia Tewas Disergap Pasukan Sultan Zulu Bergelimpangan




JAKARTA, KOMPAS - Kontak senjata antara pasukan keamanan Malaysia dan pengikut Kesultanan Sulu yang menduduki Lahad Datu, pesisir pantai di wilayah Sabah, Malaysia, terus terjadi. Sabtu (2/3) malam, dua anggota kelompok penyusup tewas ditembak. Dini harinya, sedikitnya lima polisi Malaysia tewas disergap saat berpatroli di kota Semporna, sekitar 150 kilometer dari Lahad Datu.

Sejak dua pekan lalu, lebih dari 100 pengikut Kesultanan Sulu, sebagian dari mereka bersenjata, menyeberang ke Lahad Datu, Sabah. Mereka mengklaim tanah leluhur mereka di Sabah sebagai wilayah Kesultanan Sulu di Filipina selatan.

Setelah batas waktu yang diberikan Pemerintah Malaysia habis, terjadi kontak senjata dengan pasukan elite polisi Malaysia. Dua polisi komando dan 12 penyusup tewas dalam insiden itu.

Setelah insiden itu, para penyusup melarikan diri dan terpecah ke tiga wilayah pantai di Sabah, hingga terjadi penyergapan terhadap polisi Malaysia di Semporna.

Polisi Malaysia didukung pasukan militer terus mengejar para penyusup atas perintah Perdana Menteri Najib Razak, yang dibenarkan Kepala Polisi Malaysia Ismail Omar. Namun, Ismail menolak menyebut Sabah dalam kondisi darurat.

Dia juga tak berkomentar terkait klaim pihak Kesultanan Sulu di Manila, yang menyebut berhasil menyandera empat polisi Malaysia. ”Saya tak mau berspekulasi Sabah sedang dalam krisis. Aparat telah kami kerahkan di tiga lokasi untuk merespons keadaan,” ujar Ismail dalam jumpa pers di Lahad Datu.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri RI Marty Natalegawa menyayangkan kontak senjata yang pecah sejak akhir pekan lalu di Sabah, Malaysia. Namun, Marty mengapresiasi upaya Pemerintah Filipina dan Malaysia untuk berkomunikasi dan mencoba menyelesaikan masalah secara damai.

Marah
Di Manila, pemimpin Kesultanan Sulu, Sultan Jamalul Kiram III (74), mengaku khawatir banyak pengikutnya marah atas tewasnya warga mereka di Lahad Datu. Dia dan salah seorang putrinya, Jacel, mencoba menenangkan warga meski menegaskan tak akan pernah mundur dari klaim mereka atas Sabah.

”Masalah itu terkait kehormatan, yang berada di atas segalanya, termasuk nyawa. Kami akan terus memperjuangkan kebenaran dan hak kami,” ujar Kiram.

Berdasarkan catatan sejarah, dua kesultanan di wilayah Sabah, yaitu Brunei dan Sulu, membuat kesepakatan tahun 1658. Kesultanan Brunei menghadiahkan wilayah Sabah kepada Kesultanan Sulu atas jasa mereka membantu melawan pemberontak.

Pada tahun 1878, perusahaan Inggris, British North Borneo Company, menyewa wilayah itu pada Kesultanan Sulu. Dalam kontrak disebutkan, perusahaan itu membayar senilai 1.700 dollar Amerika Serikat selama beroperasi.

Masalah muncul saat Malaysia merdeka. Inggris menyerahkan wilayah Sabah karena menganggap uang sewa tersebut sebagai uang pembelian lahan. Padahal, menurut BBC, hingga kini Malaysia masih membayar uang sebesar 1.500 dollar AS per tahun kepada Kesultanan Sulu.

Menurut pengamat ASEAN dari LIPI, Ratna Shofi Inayati, sengketa wilayah Sabah antara Malaysia dan Filipina pernah terjadi sekitar tahun 1968.

Saat itu masalah dapat diredam, termasuk dengan permintaan Presiden Soeharto, yang meminta semua pihak menghentikan kekerasan dan bekerja sama membangun ekonomi dan kesejahteraan di kawasan.(AFP/AP/REUTERS/DWA)

Pendukung Sultan Sulu Retas Google



KUALA LUMPUR, KOMPAS.com - Upaya mengklaim Negara Bagian Sabah menjadi bagian Kesultanan Sulu, tak hanya dilakukan dengan mengirim pasukan bersenjata. "Perjuangan" ternyata juga dilakukan lewat dunia maya.

Pendukung Kesultana Sulu, Senin (4/3/2013), memanipulasi situs pencarian Google untuk mendukung upaya merebut kembali Sabah.

Jika pengguna Google menuliskan kata "Sabah" dalam kotak pencarian, maka salah satu yang keluar di halaman pertama adalah penambahan kutipan "Wikipedia" tentang Sabah.

"Sabah secara ilegal dianggap sebagai salah satu dari 13 negara bagian Malaysia, dan dianggap sebagai negara bagian paling timur. Padahal faktanya, Sabah adalah wilayah dari Kesultanan Sulu," demikian kutipan yang terlihat di sisi kanan halaman Google dengan peta Sabah di atasnya.

Sementara itu, situs Stamford College di Malaysia juga diretas akhir pekan lalu. Halaman depan situs itu digantikan sebuah pesan terkait kepemilikan Sabah.

"Waktu untuk merebut kembali yang menjadi milik kami sudah tiba."

"Sabah adalah milik Filipina, kalian secara ilegal mengklaimnya," demikian isi pesan-pesan itu.

Sedangkan sejumlah portal berita Filipina mengabarkan sejumlah situs internet negeri itu juga diserang para peretas Malaysia.

Baku tembak yang terjadi di Negara Bagian Sabah antara aparat kepolisian Malaysia dan Tentara Kesultanan Sulu telah menewaskn 18 penyerang dan delapan polisi Malaysia.

Ini Pernyataan Chavez yang Menuai Kontroversi

Dalam foto tanggal 30 November 2007 ini, Presiden Venezuela Hugo Chavez tiba dalam sebuah aksi menuntut perubahan konstitusi nasional di Caracas, Venezuela. Wakil Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengumumkan pada hari Selasa (5/3) bahwa Chavez meninggal dunia pada usia 58 tahun setelah hampir dua tahun berjuang melawan kanker. AP/Rodrigo Abd


TEMPO.CO, Karakas — Presiden Venezuela Hugo Chavez, yang wafat pada usia 58 tahun, pada Selasa waktu setempat dikenal sebagai tokoh kontroversial. Ucapan-ucapannya yang dramatis dan provokatif kerap menjadi berita utama media internasional. Ini adalah beberapa penyataan Chavez yang berhasil menarik minat dunia:

1. Menyamakan Bush dengan setan. Saking jengkelnya Chavez terhadap bekas Presiden Amerika Serikat George W. Bush, ia menyebut Bush sebagai “setan” dalam pidato di Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2006. “Kemarin, ada setan yang datang kemari. Ya, datang kemari. “ Chavez membuat tanda salib sebelum kembali berkata, “Dan baunya masih membekas hingga kini.”

2. Kapitalisme membunuh mahluk hidup di Mars. Sebagai tokoh penting sosialis, Chavez memiliki kebencian besar terhadap segala sesuatu yang berbau kapitalis. Ia bahkan sempat menuding kapitalisme membunuh mahluk hidup di Mars dalam peringatan Hari Air Sedunia pada 2011. “Saya kerap mendengar bahwa ada peradaban di Mars. Tapi, mungkin, sejak kapitalisme mendarat di sana, imperialisme turut serta dan membunuh mereka.”

3. Mengecam Halloween. Budaya yang sangat lazim dirayakan warga Amerika Serikat, tak luput dari kritikan Chavez. Dalam acara televisnya, Alo Presidente, pada 2005, Chavez menegaskan bahwa perayaan Halloween adalah kebiasaan “Gringo” yang tidak layak dilakukan warga Venezuela. “Ini adalah permainan teror, sesuai dengan budaya Barat yang gemar menakuti negara lain, bahkan rakyatnya sendiri.”

4. Mengecam operasi plastik. Kritikan pedas Chavez tak hanya soal politik. Ia pun kerap mengecam budaya kontemporer, mulai wiski Skotlandia hingga operasi pembesaran payudara. Pada 2011, Chavez dilaporkan memarahi para dokter yang dinilai mendorong perempuan Venezuela untuk membesarkan payudaranya.

5. Menuding Amerika Serikat bertanggung jawab atas gempa dasyat di Haiti. Setelah gempa dasyat yang mengguncang Haiti pada 2010, Chavez menuding Amerika Serikat bertanggung jawab. Seperti dilansir stasiun televisi ABC Spanyol, Chavez mengatakan bahwa negara adidaya itu melakukan uji coba senjata gempa yang berakhir dengan musibah tersebut. “Saya memeproleh info dari intelijen Rusia.”

6. Plot serangan kanker Amerika Serikat. Negara adidaya itu lagi-lagi menjadi tudingan Chavez dalam epidemi penyakit kanker yang melanda petinggi negara-negara Amerika Latin. Selain Chavez, tercatat beberapa presiden di kawasan tersebut harus berobat karena mengidap penyakit kanker. “Apakah aneh jika mereka mengembangkan teknologi untuk menyebarkan kanker dan kita baru mengetahuinya 50 tahun lagi?”

Adios Kamerad Chavez.

L LOS ANGELES TIMES | SITA PLANASARI AQUADINI

Kelompok Penyusup Diduga Mendarat Lagi di Sabah Untuk Memperkuat Pasukan Sultan Zulu



TEMPO.CO, Sabah - Suasana di Lahad Datu, Sabah, masih mencekam, kendati aparat kepolisian menyatakan situasi telah berhasil dikendalikan. Portal berita The Borneo Insidermelaporkan berita yang tak diverifikasi bahwa sekelompok orang, diduga 50 pria bersenjata merapat di dekat Felda Sahabat di pantai timur Sabah, dan mengambil beberapa sandera.

Pejabat keamanan Malaysia telah mendirikan pusat operasi di Felda Sahabat untuk menghadang kelompok penyusup, diduga militan Muslim Filipina. Blokade jalan juga dilakukan di sekitar Tanjung Labian.

Namun, berita mendarat lagi sekelompok penyusup ditepis Kepala kepolisian Diraja Malaysia. "Para penyusup bersenjata menyebarkan rumor untuk menurunkan moral pasukan keamanan Malaysia," kata Tan Sri Ismail Omar, seperti dilaporkan Malaysiakini. Ia menyatakan, aparat tak akan tertipu taktik semacam itu.

Lalu lintas masuk dan keluar dari Tanjung Batu telah diblokir mulai pukul 14.00, The Star Online melaporkan. Warga desa tidak diizinkan untuk meninggalkan atau memasuki rumah mereka.

Desa Tanjung Batu berada sekitar 30 km dari Kampung Tanduo, tempat di mana kelompok militan yang dipimpin oleh Agbimuddin Kiram, yang memproklamirkan diri sebagai putra mahkota dan pewaris Kesultanan Sulu, merapat pada 9 Februari lalu.

Polisi juga dilaporkan melakukan patroli di desa lain di pantai dekat Semporna, 150 km dari Lahad Datu. Banyak penyusup Sulu melarikan diri setelah tembak-menembak pada hari sabtu, diduga kini tersebar ke desa-desa di sekitarnya.

MALAYSIAN INSIDER | TRIP B

'Perjalanan Pulang' Keluarga Sultan Sulu ke Sabah

Pengikut mantan Sultan Sulu Jamalul Kiram III melakukan protes di depan Masjid Biru di Taguig, Filipina, (1/3). Menurut mereka Sabah yang sekarang menjadi bagian Malaysia, merupakan wilayah Kesultanan Sulu yang disewakan kepada pemerintah kolonial Inggris. (AP Photo/Bullit Marquez)


TEMPO.CO, Manila - Senin pagi empat pekan lalu, Raja Muda Agbimuddin Kiram dan sekitar 1.000 pengikutnya, termasuk pasukan bersenjata yang ia sebut Tentara Kerajaan Kesultanan Sulu dan Borneo Utara, meninggalkan Kepulauan Simunul di Tawi-tawi, Filipina bagian selatan. Menggunakan kapal cepat, rombongan itu melaju ke Sabah, Malaysia.

Agbimuddin adalah adik Sultan Jamalul Kiram III, dari Kesultanan Sulu, di Filipina Selatan. Ia mengatakan pendaratannya di Lahad Datu, Sabah, 11 Februari lalu, itu bukan sebagai agresi, melainkan "perjalanan pulang". Peristiwa itu menjadi perhatian besar setelah mereka terlibat kontak senjata dengan Pasukan Keamanan Malaysia, yang hingga Senin, 4 Maret 2013, setidaknya menewaskan 26 orang.

Pendaratan itu, yang merupakan bagian dari upaya mereka untuk mengklaim kembali Sabah, dilakukan Kesultanan Sulu karena merasa dikhianati dan ditinggalkan dalam proses perdamaian antara pemerintah dan Front Pembebasan Islam Moro (MILF). Abraham Julpa Idjirani, juru bicara dari Kesultanan Sulu, mengatakan, rencana ini dipersiapkan akhir tahun lalu tak lama setelah pemerintahan Aquino menandatangani perjanjian dengan MILF.

Kesultanan Sulu merasa punya dasar untuk mengklaim Sabah sebagai wilayah mereka. Menurut keluarga kesultanan, Sabah--yang sebelumnya bernama Borneo Utara--diserahkan oleh Sultan Brunei kepada Sultan Sulu pada 1704. Pemberian itu sebagai hadiah atas bantuan Sultan Sulu yang membantu menumpas pemberontakan melawan Sultan Brunei.

Ayah Jamalul II, Sultan Jamalul Ahlam, salah satu ahli waris, menyewakan Sabah kepada British North Borneo Co pada 1878. Imbalannya, perusahaan Inggris itu akan membayar 5.300 keping emas Meksiko per tahun untuk Kerajaan Sulu--versi lain mengatakan US$ 5.000. Pembayaran itu terus dilakukan sampai Jamalul II meninggal pada 1936.

Setelah kematian Jamalul II, Konsulat Inggris di Manila merekomendasikan penangguhan pembayaran karena Presiden Manuel L. Quezon tidak mengakui pengganti Jamalul II. Sultan Punjungan Kiram, putra mahkota kesultanan pada saat kematian Jamalul II, pergi ke Konsulat Inggris di Manila untuk menuntut adanya pembayaran kembali.

Setelah ada putusan pengadilan, British North Borneo Co kembali melakukan pembayaran. Saat Sabah masuk Federasi Malaysia pada 1963, pembayaran dilakukan dalam bentuk ringgit. Sejak itu, setiap tahun Kedutaan Besar Malaysia di Filipina mengeluarkan cek sebesar 5.300 ringgit (sekitar 77 ribu peso) kepada keluarga Jamalul Ahlam. Malaysia mengatakan uang itu sebagai "penyerahan" pembayaran tahunan untuk daerah yang disengketakan, sementara keturunan sultan menganggapnya sebagai uang "sewa".

Pada Juli 2008, ada laporan yang menyebutkan bahwa ahli waris membatalkan klaim atas Sabah, tapi klaim itu dianggap bohong. Setelah itu, ahli waris berusaha untuk mendapatkan perhatian dari pihak berwenang dengan meminta kenaikan "biaya sewa", tapi tidak berhasil.

Februari 1999, mendiang Putri Denchurain Kiram, Putri Tarhata, menulis surat kepada Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohammad melalui mantan Presiden Joseph Estrada untuk meminta peningkatan sewa tahunan. Sampai dia meninggal pada September 2000, surat balasannya tak pernah datang.

Sejumlah langkah terus dilakukan pihak Sulu. Pada Januari 2001, keluarga sultan menulis surat yang mirip kepada Mahathir melalui Presiden Gloria Macapagal-Arroyo. Usaha serupa kembali dilakukan pada dua tahun berikutnya, tapi juga tak berhasil. Upaya serupa dilakukan pada Februari 2005. Saat itu ahli waris menulis surat kepada Perdana Menteri Abdullah Ahmad Badawi, dan mendapatkan hasil yang sama.

Menurut Patricio N. Abinales, profesor studi Asia di Universitas Hawaii, aksi yang dilakukan orang dari Kesultanan Sulu ini juga disebabkan dari kurangnya perhatian Manila terhadap daerah yang berada di wilayah selatan itu. Tak mengherankan jika seorang perwira Angkatan Udara Malaysia pernah mengenang bagaimana mereka dengan mudahnya membawa senjata dari Sabah ke kamp Front Pembebasan Nasional Moro (MNLF) pada puncak perang Mindanao pada 1970-an.

Saat tentara Sulu bentrok dengan aparat keamanan Malaysia, juga tak terdengar suara dukungan dari dua gerakan muslim, yaitu MILF dan MNLF. Abinales mengaku tak heran dua kelompok muslim itu tak bersuara dalam soal ini. Ia menduga karena dua organisasi itu telah berdamai dengan Manila dan telah menerima tawaran otonomi. Selain itu, keduanya berterima kasih atas dukungan pemerintah Malaysia untuk perjuangan separatis mereka pada masa lalu. "Jika MILF dan MNLF ikut membantu klaim Sulu atas Sabah, itu sama dengan air susu dibalas dengan air tuba," kata dia.

Penyusup Sabah Akan Dijerat Pasal Pembunuhan

Sejumlah peti mati Inspektur Zulkifli Mamat dan Kopral Sabarudin Daud dari Komando Batalyon Polisi Malaysia ke-69, yang tewas pada Jumat dalam aksi gencatan senjata dengan pengikut bersenjata dari Kesultanan Sulu. REUTERS/Bazuki Muhammad


TEMPO.CO, Kuala Lumpur - Berbarengan dengan pengumuman kepolisian Malaysia bahwa mereka berhasil melumpuhkan penyusup asal Filipina di Sabah, Kementerian Hukum mulai menyusun upaya hukum bagi mereka yang tertangkap hidup-hidup. Menurut Menteri Kehakiman Malaysia, Nazri, insiden di Lahad Datu adalah penyusupan, bukan perang.

"Ini merupakan intrusi ke dalam kedaulatan kita, tapi bukan perang," katanya. Karena itu adalah penyusupan, katanya, yang akan menangani kasus mereka adalah aparat kepolisian.

Ia mengatakan jika perang, Konvensi Jenewa yang akan diberlakukan. Namun, yang terjadi di Sabah, katanya, bukan perang.

"Mereka melanggar hukum Malaysia, dan karenanya mereka akan diseret ke pengadilan biasa," kata Nazri.

Dia menambahkan, mereka pasti akan dijerat dengan pasal pembunuhan. Dalam pertempuran antara penyusup bersenjata Sulu dan pasukan keamanan Malaysia, delapan polisi tewas.

Senin pagi empat pekan lalu, Raja Muda Agbimuddin Kiram dan ratusan pengikutnya, termasuk pasukan bersenjata yang ia sebut Tentara Kerajaan Kesultanan Sulu dan Borneo Utara, meninggalkan Kepulauan Simunul di Tawi-tawi, Filipina bagian selatan. Menggunakan kapal cepat, rombongan itu melaju ke Sabah, Malaysia.

Agbimuddin adalah adik Sultan Jamalul Kiram III, dari Kesultanan Sulu, di Filipina Selatan. Ia mengatakan pendaratannya di Lahad Datu, Sabah, 11 Februari lalu, bukan sebagai agresi, melainkan "perjalanan pulang". Peristiwa itu menjadi perhatian besar setelah mereka terlibat kontak senjata dengan Pasukan Keamanan Malaysia, yang hingga Senin, 4 Maret 2013, setidaknya menewaskan 26 orang.

Malaysia Nilai Sabah Belum `Bersih`



TEMPO.CO, Sabah - Malaysia menyatakan akan melunakkan operasi militer di Kampung Tanduo, Sabah, setelah serangan intensif yang dilakukan sejak Selasa pagi tadi, 5 Maret 2013. Meski begitu, Kepala Kepolisian Inspektur Jenderal Polisi Tan Sri Ismail Omar mengatakan, Sabah belum sepenuhnya bersih dari penyusup.

"Ini meliputi wilayah yang luas, 4 kilometer persegi, dan saya percaya masih ada musuh bersembunyi di daerah tersebut," katanya dalam konferensi pers di hotel Felda Sahabat Residence.

Dia juga mengatakan, operasi menjadi lambat karena medan yang sulit. "Saya telah memerintahkan para komandan di lapangan untuk berhati-hati. Saya tidak ingin polisi atau personel militer menjadi korban," ujar Ismail.

Sejak sebulan lalu, penyusup yang mengaku dari Kesultanan Sulu menduduki wilayah Lahad Datu di Sabah. Mereka mengklaim wilayah ini merupakan bagian dari wilayah mereka. Operasi militer besar-besaran dilakukan mulai hari ini untuk menumpasnya.

Ditanya tentang kemungkinan beberapa orang bersenjata melarikan diri dari zona pertempuran Kampung Tanduo, dia hanya menjawab, "Kami berharap mereka tidak luput dari penjagaan keamanan kami."

Dia juga menepis laporan dari Manila, dikutip dari orang yang mengaku sebagai Sultan Sulu Jamallul Kiram III, yang menyatakan banyak personel militer Malaysia turut menjadi korban. "Sangat disesalkan bahwa seseorang dapat membuat klaim seperti itu tanpa mengetahui fakta di lapangan," kata Ismail.

Dia mengatakan belum menerima laporan dari pasukannya di lapangan bahwa ada personel keamanan Malaysia yang terluka atau tewas dalam serangan yang dimulai pukul 07.00 itu.

Intrik di Filipina Berada di Balik Serangan Sabah?



TEMPO.CO, Manila - Serangan Kesultanan Sulu ke Sabah diduga dilakukan karena adanya upaya melemahkan Presiden Filipina, Benigno Aquino, dalam pemilu paruh waktu pada bulan Mei dan upaya mengendalikan legislatif bikameral.

Seorang sumber mengatakan pada Malaysian Insider, politikus Filipina ingin memberi tekanan pada Aquino menjelang pemilihan presiden 2016 untuk memberi pengampunan terhadap pendahulunya, Gloria Macapagal Arroyo. Mantan presiden itu kini berada di bawah penahanan rumah.

Sultan Sulu, Jamalul Kiram III, yang memerintahkan serangan bersenjata untuk mengklaim Sabah bulan lalu, mencalonkan diri sebagai senator dari partai Arroyo pada Pemilu 2007. Dia hanya kurang 800 suara pemilih.

"Beberapa ingin melemahkan Aquino dalam pemilu legislatif paruh waktu untuk memungkinkan mereka mengontrol Senat dan DPR sebelum pemilihan presiden 2016," kata sumber yang namanya enggan disebut. "Ini akan memastikan bahwa Arroyo akan mendapatkan pengampunan."

Hal yang sama ditegaskan sumber lainnya dari lingkaran dalam Istana. "Ini murni politik dan klaim Sulu juga politis," katanya.

Aquino mengatakan Manila akan meneliti klaim atas Sabah. Namun, dia mengatakan Sultan Sulu dan para pengikutnya harus menghormati hukum Malaysia. Dia juga mengatakan Filipina tidak membenarkan adanya tentara swasta, dan menyebut Tentara Kesultanan Sulu sebagai ilegal.

Kuala Lumpur menyalahkan pemimpin oposisi Anwar Ibrahim dalam kasus ini. Ia diketahui menjalin kontak dengan Kesultanan Sulu sebelum adik Sultan Jamalul Kiram III, Agbimuddin Kiram, mendarat di Lahad Datu dengan prajuritnya pada tanggal 9 Februari.

Namun, militan Filipina telah membantah memiliki hubungan dengan oposisi di Malaysia itu.

Pasukan keamanan Malaysia kemarin mengadakan serangan militer terpadu untuk mengakhiri pertikaian dengan kelompok Agbimuddin Kiram yang bersembunyi di Kampung Tanduo, Lahad Datu. Jet tempur membombardir wilayah itu, sebelum tentara bergerak di darat. Kuala Lumpur mengatakan bahwa operasi dengan nama sandi "Ops Daulat" sukses dan tidak ada korban jiwa dari pihak Malaysia.

Delapan polisi Malaysia telah meninggal sebelumnya dalam dua pertempuran yang juga menewaskan 20 militan di Semporna dan Lahad Datu, kedua daerah dengan populasi besar orang Sulu.

MNLF: 10 Ribu Tentara Sulu Tiba di Sabah Melawan Malaysia



TEMPO.CO, Manila - Front Nasional Pembebasan Nasional Moro (MNLF) menyatakan, ribuan warga Tausug, juga dikenal sebagai Suluks, telah berlayar ke Sabah untuk membantu rekan mereka, menyusul serangan senjata berat oleh pasukan Malaysia. Philippine Inquirer melaporkan, Ketua Dewan Komite MNLF, Habib Hasyim Mudjahab, menyatakan, mereka marah atas sikap Malaysia.

"Kita tidak bisa lagi mencegah orang kami. Kami terluka dan banyak dari orang-orang kami, bahkan yang bukan prajurit, akan bertolak ke Sabah untuk membantu kesultanan," kata Mudjahab seperti dikutip media itu.

Pernyataannya bertentangan dengan laporan lain yang menyebutkan bahwa pasukan keamanan di Malaysia dan Filipina telah memblokir pintu masuk menuju Lahad Datu. Mereka juga telah mengepung wilayah yang diduga menjadi tempat persembunyian prajurit Sulu.

Menurut Mudjahab, mereka yang berasal dari Basilan, Sulu, Tawi-Tawi, dan Zamboanga telah meninggalkan perairan Filipina sejak tadi malam dengan perahu kecil, memasuki Sabah melalui apa yang mereka sebut "gerbang belakang Selatan"--rute yang biasa dilalui para pedagang.

Pejabat MNLF mengatakan, blokade laut itu tidak ada gunanya karena mereka yang mengetahui rute akan dapat masuk ke Malaysia timur dengan mudah, tanpa kecurigaan. "Ini adalah tentang kebanggaan dan kehormatan, dan orang-orang kami siap untuk berkorban," ia menambahkan.

Sebelumnya, hari ini, Kepala MNLF, Nur Misuari, dalam konferensi pers membantah terlibat dalam kebuntuan di Sabah.

Letnan Jenderal Rey Ardo, pemimpin militer di Mindanao Barat, dan pejabat Gubernur Daerah Otonomi Muslim Mindanao (ARMM), Mujib Hataman, mengaku tak mengetahui adanya bala bantuan yang bertolak ke Sabah.

Warga Malaysia di Filipina Diimbau Berhati-hati



TEMPO.CO, Kuala Lumpur - Krisis Sabah membuat hubungan Malaysia dan Filipina sedikit tegang. Karenanya, Kementerian Luar Negeri Malaysia menyarankan warganya di Filipina untuk berhati-hati dan mengutamakan keselamatan serta keamanan mereka.

Mereka juga disarankan untuk latihan tindakan pencegahan tambahan dalam kegiatan sehari-hari.

Malaysia melakukan operasi militer besar-besaran untuk mengusir penyusup asal Filipina. Mereka membombardir Lahad Datu, wilayah yang diduga menjadi lokasi pendaratan mereka yang mengaku sebagai prajurit Sulu, yang mengklaim wilayah itu adalah bagian kesultanan mereka.

Dalam sebuah pernyataan Selasa, mereka mengatakan Kedutaan Besar Malaysia di Makati City, Manila, dan konsulat jenderal di Davao City siap menjadi penghubung dan bekerja sama dengan pihak berwenang Filipina untuk menjamin keselamatan mereka.

Menyinggung demonstrasi yang dilakukan sekelompok 40 orang di luar kedutaan -- mereka membakar bendera Malaysia dan foto Perdana Menteri Najib Razak -- Kementerian Luar Negeri Malaysia menyebut itu hanya kelompok kecil saja, tak mewakili seluruh rakyat Filipina.

"Kementerian Luar Negeri Malaysia menyatakan penghargaan yang setinggi kepada Pemerintah Filipina, khususnya Kepolisian Nasional Filipina, untuk memberikan perlindungan keamanan yang diperlukan untuk Kedutaan Besar Malaysia di Manila dan Konsulat Jenderal di Davao City," kata pernyataan itu, seperti dimuat di kantor berita Malaysia, Bernama.

Misuari Ingatkan Malaysia Jangan Bunuh Raja Sulu



TEMPO.CO, Manila - Pemimpin Front Pembebasan Moro (Moro National Liberation Front/MNLF) Nur Misuari pada Selasa memperingatkan pemerintah Malaysia untuk tak membunuh para pengikut Sultan Sulu Jamalul Kiram III di Sabah. Membunuh mereka dengan sengaja, katanya, akan sama saja dengan deklarasi perang melawan mereka.

Berbicara kepada wartawan, Misuari menyuarakan permintaan khusus pada Perdana Menteri Malaysia Najib Razak untuk tak membunuh adik sultan, Putra Mahkota Raja Muda Agbimuddin Kiram. "Jika Anda melakukannya, sama saja dengan deklarasi perang terhadap rakyat kami dan Front Nasional Pembebasan Moro. Adalah tugas suci bagi kami untuk melindungi rakyat kami," katanya.

Ia menyatakan, setiap tetes darah mereka, "Adalah suci bagi kami," kata Misuari menambahkan.

Pendiri MNLF yang menandatangani perjanjian perdamaian dengan pemerintah Ramos pada tahun 1997, juga menolak apa yang disebutnya sebagai "spekulasi liar" bahwa dia berada di balik langkah yang diambil oleh para pengikut Sultan Sulu Jamalul Kiram III di Sabah.

Berbicara kepada wartawan, Misuari mengatakan tidak bertanggung jawab untuk menghubungkannya dengan dugaan konspirasi untuk menekan klaim kesultanan atas Sabah. Ia menyebut membiayai orang untuk melakukan penyerangan ke negara lain "adalah bukan cara saya".

Misuari mengatakan sebagai pemimpin MNLF, ia mampu memobilisasi 4.000 pejuang dalam perburuan Abu Sayyaf yang menyandera beberapa orang asing di Mindanao. Dia mengatakan mengerahkan kekuatan yang lebih besar selama insiden penyanderaan Sipadan pada April 2000.

"Jadi, bagi siapa saja yang berspekulasi bahwa saya ada hubungannya dengan hal ini adalah semacam kegilaan. Hal ini sangat tidak bertanggung jawab bagi siapa pun untuk melibatkan saya dalam hal ini," katanya.

Di sisi lain, pemimpin MNLF mengatakan ia sangat prihatin dengan nasib Muda Raja Kiram dan anak buahnya setelah mereka dilaporkan dibom oleh jet tempur Malaysia Selasa pagi.

Presiden Aquino pada hari Selasa mengatakan ada tanda-tanda pasti konspirasi dalam penyusupan ke Sabah, Malaysia.

Tuesday, March 5, 2013

Konflik Sabah, Janda Sultan Sulu ke-34 Tawarkan Diri ke Malaysia Untuk Mediasi



Liputan6.com, Makati City : Sabah menjelma menjadi medan pertempuran antara Tentara Diraja Malaysia dan pasukan loyalis Sultan Sulu yang mengklaim wilayah di Kalimantan Utara itu sebagai milik nenek moyangnya. 

Pertumpahan darah tak bisa dihindari, setidaknya 27 nyawa terenggut -- 19 di pihak Sultan Sulu dan 8 dari polisi Malaysia. Selasa dini hari tadi, pihak negeri jiran bahkan melancarkan serangan fajar, mengerahkan pesawat tempur untuk membombardir kawasan yang diduga kamp pasukan loyalis. 

Di tengah situasi yang makin pelik, muncul janda sultan sebelumnya, Sultan Sulu ke-34. Ia menawarkan diri untuk dijadikan "utusan khusus" dalam negosiasi dalam yang melibatkan semua pihak. Namun ia menegaskan, keluarganya berhak tinggal di wilayah yang disengketakan. 

Dr Merriam Kiram, istri almarhum Sultan Mohamad Mahakuttah Kiram juga meminta Pemerintah Filipina tak mengabaikan pihak Kesultanan Sulu dalam rencana perdamaian dan pembangunan di Mindanao. Menegaskan apa yang pernah diungkapkan Sultan Jamalul Kiram III -- yang kini memerintah -- bahwa pihaknya ditinggalkan dalam perundingan antara Pemerintah Filipina dan Moro Islamic Liberation Front (MILF).

"Aku menawarkan diri sebagai utusan dalam negosiasi dengan para pihak," kata Merriam dalam konferensi pers Senin kemarin, seperti dimuat situs Philippine Daily Inquirer, Selasa (5/3/2013). Itu merupakan penampilan perdananya di depan publik sejak konflik Sabah yang dimulai tiga minggu lalu. 

Ia yakin, dengan pendekatannya, para pihak akan bersedia duduk bersama di meja perundingan untuk menyelesaikan masalah dengan baik. "Untuk membuat solusi yang bisa diterima semua pihak, win-win solution." 

Merriam mengatakan, ia telah tinggal di Malaysia selama 25 tahun dan telah melakukan banyak pembicaraan dengan pihak negeri jiran. Bahkan sebelum aksi pendudukan Sabah dimulai.

Dia menceritakan, dalam pembicaraan dengan pihak Malaysia, ia berusaha memenuhi wasiat suaminya yang memintanya "mengusahakan pengembalian aset Kesultanan Sulu". Namun, Merriam tak menyebut secara rinci apa yang ia ungkapkan ke pihak Malaysia. "Aku hanya minta pada mereka, tolong, jaga keluargaku. Aku tak ingin ada pertumpahan darah."

Merriam mengatakan sisinya keluarga, di antara sembilan pewaris kesultanan, tidak dimintai konsultasi tentang tindakan Sultan Jamalul.

Meski tak setuju dengan cara mereka, Merriam membela tindakan loyalis Sultan. Kata dia, mereka ke Sabah "hanya untuk tinggal di sana" dan tidak bersenjata lengkap seperti yang dilaporkan. Sepengetahuannya hanya 3 dari 200 orang yang dipersenjatai.

Tak Akan Menyerah

Sebelumnya, Sultan Sulu, Jamalul Kiram III menegaskan pihaknya tak akan menyerah. Permintaan Presiden Filipina pun ia tepis. 

"Satu-satunya yang mereka tahu adalah menyerah. Mengapa kami harus menyerah di kampung halaman kami sendiri?," kata dia.

Saudaranya, Rajah Mudah Agbimuddin Kiram yang memimpin pasukan di Tanduao, Sabah juga punya tekad sama. Dalam pesan singkatnya Sabtu lalu pada Sultan, ia mengatakan seluruh laskarnya siap mati. 

"Setelah kami memakamkan sembilan saudara dan saudari kami saat matahari terbenam. Kami, 224 orang yang tersisa, memutuskan mati di Lahad Datu demi mengejar mimpi dan aspirasi rakyat Sulu," demikian pesan yang dikirim Agbimuddin. (Ein)

Pejuang Moro Ikut Bertempur di Sabah Tentara Malaysia Ketakutan



MANILA, KOMPAS.com — Pendiri Front Pembebasan Nasional Moro (MNLF), Nur Misuari, Selasa (5/3/2013), memastikan para pejuang dari kelompoknya ada di dalam kelompok bersenjata yang dikirim Sultan Sulu ke Negara Bagian Sabah, Malaysia.

"Saya tak bisa membantah bahwa beberapa dari mereka adalah para pejuang MNLF," kata Nur Misuari dalam sebuah jumpa pers di Manila.

Namun, Misuari menegaskan, dirinya sebagai pendiri MNLF tidak terlibat sama sekali dengan masalah ini.

"Mereka pergi tanpa sepengetahuan saya. Saya tak memerintahkan seorang pun untuk bergabung dengan mereka (Kesultanan Sulu)," kata Misuari saat mengunjungi Jamalul Kiram III yang mengklaim diri sebagai Sultan Sulu.

MNLF pernah berjuang melawan Pemerintah Filipina untuk menuntut sebuah negara merdeka di wilayah selatan Filipina. Saat itu, MNLF juga mengklaim Sabah sebagai tanah leluhur mereka.

Pada 1996, MNLF dan Pemerintah Filipina menandatangani perjanjian damai yang menciptakan sebuah daerah otonomi Muslim di wilayah selatan dan melepas tuntutan mereka atas Sabah.

Namun, kesepakatan damai yang dilakukan MNLF ini tak disetujui semua pihak. Kelompok yang tak ingin berdamai kemudian membentuk MILF yang meneruskan perang kemerdekaan melawan Filipina.

Saat ini pun MNLF sudah semakin dekat dengan perjanjian damai dengan Pemerintah Filipina, yang juga tidak menuntut Sabah sebagai wilayah mereka.

Sejumlah kalangan menduga MNLF ikut mendorong "invasi" ke Sabah itu agar tak kehilangan pengaruh politik di kawasan selatan Filipina.

Namun, Misuari dengan tegas membantah keterlibatan MNLF dan bahkan menawarkan diri untuk menjadi penengah masalah ini.

Sementara Presiden Benigno Aquino lewat juru bicaranya Edwin Lacierda mengatakan, Angkatan Laut Filipina mencegat 70 orang yang akan menuju Sabah untuk membantu Tentara Kesultanan Sulu.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Follow Twitter

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls